Saat jam makan siang tiba, Adrela dan Laras sudah berdiri di depan sebuah klinik gigi modern. Bangunannya bersih, dindingnya didominasi warna putih dengan aroma antiseptik yang khas.
Laras menelan ludah. "La... yakin kita mau begini?"
Adrela melangkah masuk tanpa menjawab. Bel kecil di pintu berdenting. Seorang resepsionis langsung tersenyum ramah.
"Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?"
Adrela berhenti tepat di depan meja. "Dokter Fery di mana?"
Resepsionis masih tersenyum profesional.
"Maaf, Kak. Sudah membuat janji sebelumnya?"
"Nggak."
"Kalau begitu saya bantu jadwalkan dulu ya—"
"Nggak usah."
Nada suara Adrela tetap tenang, tetapi sorot matanya tajam.
"Dia punya utang sama gue."
Senyum resepsionis langsung menghilang.
"Maaf... maksudnya?"
Laras buru-buru menarik lengan Adrela pelan. "Hehe... bukan utang uang, Mbak. Ia tertawa karir. "Cuma... urusan pribadi."
Resepsionis tampak semakin bingung. "Tapi tetap harus ada janji temu..."
Belum selesai ia bicara, mata Laras menangkap papan direktori di dinding.
"Adrela!"
Ia menunjuk salah satu tulisan.
"Ruang Dokter Fery di sana."
Tanpa menunggu lagi, Laras menarik tangan Adrela menuju lorong.
"Eh, Kak!"
Resepsionis buru-buru berdiri. "Kak, nggak boleh masuk sembarangan!"
Namun keduanya sudah berjalan cepat.
Di depan pintu praktik tertulis: drg. Fery Prasetyo. Di bawahnya, lampu indikator sedang menyala. Dari dalam terdengar suara asisten.
"Pasien berikutnya, Bu Ratna."
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya baru hendak masuk.
"Permisi, Bu."
Adrela menyelip lebih dulu. Laras ikut masuk di belakangnya.
"Eh?"
Asisten dokter langsung terkejut.
"Maaf, Mbak! Pasien berikutnya belum—"
Ucapan itu terputus.
Fery yang sedang duduk di balik meja langsung membeku.
"Adrela?" Matanya melebar. "Lo ngapain di sini?"
Adrela menutup pintu pelan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Kursi pasien yang canggih. Peralatan kedokteran yang tertata rapi.
Dinding penuh sertifikat. Ia mengangguk pelan.
"Tempat kerja lo lumayan besar juga, Fer."
Fery berdiri. Ekspresinya berubah kaku. "Kalau mau periksa gigi, daftar dulu."
"Gue ke sini bukan buat periksa." Adrela melangkah mendekat. "Gue cuma mau nanya satu hal."
Fery menyilangkan tangan. "Apa?"
Adrela berhenti tepat di depan mejanya. "Lo nggak punya sopan santun?"
Ruangan langsung hening. Asisten dokter saling berpandangan dengan bingung.
Fery menghela napas pelan. "Oh..." Ia tersenyum tipis. "Masalah kemarin."
"Bukan masalah,” balas Adrela cepat. "Itu penghinaan."
Fery menggeleng pelan. "Adrela. Gue rasa lo terlalu membesar-besarkan."
Adrela tertawa pendek. “Membesar-besarkan?"
"Iya." Fery tetap memasang wajah tenang. "Yang ngajak lo ke hotel, pasti bukan gue doang."
"HAH?"
"Lagian, kita sama-sama setuju."
Adrela langsung mengepalkan tangan. "Setuju karena lo terus maksa!"
"Tapi akhirnya lo ikut."
Jawaban itu keluar begitu enteng. Fery bahkan tersenyum kecil.
"Itu artinya keputusan tetap ada di tangan lo."
Laras langsung melotot. "Hah? Kok malah nyalahin korban?"
Fery mengangkat bahu. "Gue nggak nyalahin siapa-siapa. Gue cuma bilang fakta."
Ia kembali menatap Adrela.
"Kalau memang lo nggak nyaman... Kenapa ikut?"
Adrela sampai kehilangan kata-kata. Fery melanjutkan dengan suara tetap lembut.
"Terus sekarang lo datang ke tempat kerja gue. Di depan pasien, di depan staf dan bersikap seenaknya begini?"
"Gue yang harusnya nanya. Apa tujuan lo?"
Laras langsung maju selangkah. "Eh, jangan muter-muter! Lo yang ngomong ke orang-orang kalau Adrela cewek murahan!"
Fery terlihat berpikir beberapa detik. "Loh? Emangnya salah?"
Adrela melotot. "Apa?"
Fery tersenyum tipis. "Lo datang ke hotel sama cowok yang baru lo kenal. Itu fakta." Pria itu lalu melanjutkan kalimatnya. "Lalu lo juga ternyata masih punya cowok lain. Itu juga fakta."
Laras langsung memotong. "Itu sahabatnya!"
Fery tertawa pelan. "Sahabat?" Tatapannya berubah sinis. "Sahabat yang tiba-tiba muncul terus narik kepala lo pas hampir ciuman?"
"Atau..." Ia memandang Adrela lekat-lekat. "Sebenarnya kalian memang pacaran?"
Adrela menggertakkan giginya. "Nggak."
"Kalau nggak..." Fery menyandarkan tubuhnya ke meja. "Berarti lebih aneh lagi."
Ia tersenyum penuh kemenangan. "Kalau bukan pacar, kenapa dia sampai segitunya sama lo?"
Pertanyaan itu membuat Adrela membeku sesaat. Fery menangkap perubahan ekspresi itu.
"Nah. Lo juga bingung, kan?"
Ia menggeleng pelan seolah sedang memberi nasihat.
"Adrela. Sebelum nyalahin orang lain... Coba beresin dulu hubungan lo sendiri. Karena dari luar..."
Tatapannya bergantian kepada Adrela dan Laras.
"Yang kelihatan justru kalian yang bikin drama."
Tangan Adrela perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras. Ia menatap Fery tanpa berkedip.
"Lo nggak punya hak ngomong begitu."
Nada suaranya rendah, tetapi setiap katanya terdengar jelas. Fery hanya mengangkat sebelah alis.
"Oh ya?"
"Apa lo lupa apa yang udah lo lakuin semalam?" Adrela melangkah satu langkah lebih dekat. "Lo yang maksa gue ikut ke hotel. Lo yang nyentuh gue tanpa izin. Lo yang nyoba nyium gue padahal gue jelas-jelas mundur."
Matanya mulai memerah, bukan karena takut, melainkan karena marah.
"Harusnya... lo minta maaf. Bukannya malah ngebalikin keadaan seolah gue yang salah."
Beberapa detik, Fery hanya menatapnya. "Hahaha..."
Tawa kecil itu berubah semakin keras. Ia sampai menggeleng pelan.
"Adrela... Lo lucu."
"Lucu?"
Fery mengangguk santai. "Kalau memang gue sejahat itu... Kenapa lo ikut masuk kamar?"
Laras langsung maju. "Karena lo yang maksa!"
"Oh?" Fery tersenyum mengejek. "Terus siapa yang nutup pintu? Siapa yang duduk minum wine? Siapa yang masih ada di kamar sampai cowok itu datang?"
Ucapan itu membuat Laras semakin emosi. "Lo bener-bener nggak tahu malu!"
Namun Fery sama sekali tidak terganggu. Sebaliknya, ia menyentuh pelan sudut bibir kirinya yang masih menyisakan warna kebiruan.
"Ngomong-ngomong..." Tatapannya beralih kepada Adrela.
"Bekas tinju cowok lo masih ada." Ia tersenyum sinis. "Harusnya justru gue yang minta kompensasi."
Adrela melotot tak percaya. "Rezy bukan—"
"Gue nggak peduli dia siapa." Fery memotong dingin. "Tapi dia masuk kamar hotel tanpa izin, mukul gue, terus ngerusak nama baik gue."
Ia menunjuk pintu. "Kalau mau lanjut ribut... Silakan lewat jalur hukum. Tapi jangan di sini."
Laras mendecak kesal. "Dasar pengecut."
Fery tidak lagi tersenyum. Wajahnya berubah datar.
"Sekarang..."
"Mbak Rina." Ia memanggil asistennya.
Asisten yang sejak tadi hanya diam langsung mendekat.
"Iya, Dok?"
"Tolong antar dua tamu tak diundang ini keluar."
Laras mendengus. "Nggak usah diantar juga kita tahu jalan."
Fery melangkah menuju pintu, lalu membukanya lebar-lebar.
"Saya masih banyak pasien. Saya nggak punya waktu melayani drama."
Adrela masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tajam menembus mata Fery.
"Ada satu hal yang perlu lo tahu."
Fery tersenyum tipis. "Apa?"
Adrela mengangkat dagunya. "Orang kayak lo... cepat atau lambat bakal ketemu orang yang nggak takut lawan balik."
Senyum Fery sama sekali tidak berubah. "Ok. Kita lihat aja."
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia memberi isyarat agar mereka keluar. Dengan napas yang masih memburu, Adrela membalikkan badan.
Laras segera mengikuti di sampingnya. Pintu praktik itu pun tertutup keras di belakang mereka. Suara itu menggema di lorong klinik, menyisakan kemarahan yang belum benar-benar selesai.