Ashel menatap ponselnya. Kenapa Fariz tidak mengiriminya pesan lagi? Ah, Ashel malu sendiri sudah menunggu pesan yang bila dia terima pun sengaja diabaikan. Entah kenapa ia mulai pasang harga tinggi, gengsi gede-gedean. Berkali-kali ia membuka pesan, menunggu apakah masih ada pesan dari Fariz. tapi ternyata tidak ada. Dering ponsel membuat Ashel menjingkrak girang, pasti Fariz menelepon. Ia meraih ponsel di meja dan menjawab telepon tanpa melihat layar. Tebakannya salah, ternyata Reihan yang menelepon. “Shel, kamu baik-baik aja?” tanya Reihan yang tadi sempat melihat Ashel berjalan memasuki rumah. “Baik,” jawab Ashel. “Syukurlah. Kami semua mencemaskanmu. Malam kemarin kamu menghilang dari rumah, kami sibuk mencarimu.” “Aku nggak pa-pa kok, Rei. Memang sempat terja

