Aku terbangun ketika mendengar lantunan ayat suci dari masjid yang lokasinya hanya kisaran tiga ratus meter dari rumahku. Lantunan yang selalu menjadi alarm bangun pagi. Membuatku membuka mata dan tidak bisa tidur lagi sampai matahari terbit— kecuali sedang sakit. Rasa lelah tak membuatku tetap terlelap. Kebiasaan hari-hari sebelumnya tak semena-mena menjadi hilang. “Hmmmh! Eh … apa, nih? Sejak kapan gulingku jadi kenyal— eh, kok keras?” aku meraba-raba apa yang bisa kusentuh. “Eh, kok lembut—” “Mau ke mana lagi tanganmu, Ma?” Suara itu membuatku langsung tersentak. Aku mendongak, sepasang mata sedang menatapku tajam. “Tangannya mau naik atau turun—” “M-maaf, maaf, maaf! Aku minta maaf, Mas!” aku langsung menjauh dan melorot. Menutupi seluruh diriku dengan selimut. Sebentar! Jadi, y

