“Ini stempel kepemilikan. Meski belum bisa ngapa-ngapain, tapi Nasalma udah resmi jadi milik Janggala. Mengerti?” Aku masih saja bergidik tiap ingat kalimat Mas Gala yang satu ini. Kalimat yang tak kusangka-sangka akan keluar dengan begitu santainya. Kalimat yang juga membuatku langsung ngacir ke kamar dengan perasaan campur aduk. Ya kaget, ya berdebar, ya malu, juga merinding! Bisa-bisanya Mas Gala kepikiran kasih ‘stempel’? Kurasa, ini akal-akalannya saja. Entah apa tujuan utamanya. Padahal, tanpa stempel sekalipun, semua orang yang tahu kami menikah juga akan tahu kalau aku hanya miliknya. “Mas Gala ini beneran ada-ada aja!” Oh, iya. Aku sudah memantapkan diri. Prinsip utama tetap sama seperti sejak awal. Tidak ada ‘yang satu itu’ jika aku dan Mas Gala belum bisa jujur satu sama la

