68. Tangis Tak Terbendung

2102 Kata

Mas Gala ini sepertnya tidak rela jika aku hidup tenang. Pagi-pagi, dia sudah mengetuk pintu kamarku sampai berkali-kali. Dia memaksaku untuk segera bangun dan ikut jogging bersamanya. Sebenarnya aku ingin menolak, tetapi melihat usahanya dalam ‘mengajakku hidup sehat’, akhirnya kuiyakan. Ya, meski aku menjalaninya setengah hati. Aku sadar, niatnya sangat baik. Di sini memang akunya saja yang pemalas. Rasa ingin rebahan jauh lebih kuat. Mungkin saja, ini masih efek lelah setelah serangakian akad, resepsi, ngunduh mantu, sampai pindahan. Tolong, kemalasanku jangan ditiru! “Bisa dipastikan, kamu jarang banget olahraga sebelum ini.” Mas Gala akhirnya protes juga. Dia sudah dua kali keliling lapangan, sementara aku satu saja baru mau sampai. Dia kini sedang menyejajarkan langkah denganku.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN