Karena menangis terlalu lama, aku mendadak lemas. Pulang dari mall aku disuruh tidur di kamar Mas Gala. Dia sendiri mendapat telepon harus ke rumah sakit. Ternyata, urusan yang dia maksud tidak bisa ditunda sehari. Hari ini juga harus selesai. Mas Gala memang belum resmi praktek— karena SIP dn STR belum terbit, tetapi sepertinya dia mulai gencar datang. Barangkali dia sedang mengurus banyak hal yang tidak kuketahui. Sebagai anak Direktur Utama, kurasa begitu Mas Gala masuk akan langsung mendapat posisi penting— entah apa nanti. Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Aku tidak langsung duduk dan memilih untuk diam di ranjang. Tidak tahu kenapa, lemas ini tak kunjung hilang. Mungkin juga karena tadi jadinya aku makan sedikit. Setelah menangis, selera makanku mendadak

