Aku sembuh, malah Mas Gala yang demam. Dia bahkan demam sungguhan, bukan hanya meriang sepertiku semalam. Suhu badannya saja hampir empat puluh derajat celcius. Aku juga cukup kaget. Tengah malam dia menggigil sampai aku panik sendiri. Pasalnya, sakitnya terlalu mendadak. Beberapa jam sebelumnya saja dia masih merawatku. Apa mungkin dia sebenarnya sudah sakit, hanya tidak dirasa? Ah, entahlah! Pagi ini kupanaskan sup iga yang kemarin sore Mas Gala beli. Dia mengaku mual dan pusing, jadi tidak berselera makan. Biasanya, orang dengan kondisi seperti itu inginnya makan yang berkuah-kuah. Semoga saja dia mau makan sup itu. “Mas, makan dulu. Iga yang kemarin sore udah aku panasin. Udah aku icip, masih enak. Enggak ada yang berubah rasanya.” Alih-alih bangun, Mas Gala malah menarik selimut

