59. First Kiss

1906 Kata

Malam ini aku dan Mas Gala keluar naik motor. Sengaja, karena salah satu tujuannya adalah ‘cari angin’ agar tidak suntuk. Aku juga merasa hawa malam ini enak. Tidak panas, tidak pula dingin. Tentu saja, kami sudah izin Ayah dan Ibu ingin makan di luar. Mereka langsung membolehkan. Tidak ada drama tersinggung karena mereka sepertinya paham betul apa yang kami rasakan. Kini, kami berdua sudah terdampar di salah satu rumah makan yang menjual aneka makanan kuah. Mulai dari soto, rawon, sup ayam kampung, sampai sup iga pun ada. Kami sengaja masuk rumah makan yang tampak sepi. Itung-itung menjadi penglaris. “Padahal luas dan bersih juga. Kenapa sepi, ya, Mas?” “Besar kemungkinan kurang strategis aja tempatnya. Soalnya jalan depan ini jalur cepat. Jarang orang berhenti. Jadi, rumah makan ini

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN