Saat pertama kali masuk ruangan Nabil, dia sedang terlelap. Karena lukanya luka tembak dan tertutup baju, sekilas dia tidak seperti orang sakit. Wajahnya juga tidak pucat. Tampak biasa-biasa saja. Aku meletakkan buah di nakas, lalu duduk di samping ranjang. Mas Gala sendiri mengecek kondisi Nabil seperlunya. Dia tidak sedang berjaga, Nabil pun bukan tanggung jawabnya. Jadi, dia tidak bisa sembarang memeriksa— apalagi sampai berlebihan. Aku dengar, yang bertanggung jawab adalah Dokter Ares. Tenang, Dokter Ares sudah terverifikasi pro Ayah. Mas Gala yang bilang sendiri. Untuk saat ini, aku akan fokus dulu pada Nabil. Soal rasa tidak enakku pada Satria kukesampingkan dulu. Mungkin nanti, aku akan chat dia untuk meminta maaf. Aku yakin seribu persen, saat ini dia sedang merasa sangat malu.

