Setelah cukup istirahat, aku langsung ke dapur untuk masak makan malam. Saat aku keluar dari kamar, Mas Gala tidak ada. Mungkin dia masih tidur. Aku bahagia sekali melihat kulkas tampak penuh. Aku bisa masak banyak hal. Namun, karena hanya untuk berdua, aku tidak ingin terlalu boros. Aku harus pintar mengira-ngira, jangan sampai banyak yang mubadzir. Sekalipun aku dan Mas Gala sama-sama banyak makan dan bukan picky eater, bukan berarti harus berlebihan. Lebih baik masak secukupnya dan gonta-ganti menu. “Wangi banget, Ma. Kamu masak apa?” Aku menoleh, Mas Gala tampak baru saja bangun tidur. Terlihat dari matanya yang sayu dan beberapa kali gestur menguap. Padahal aku sudah tidur di sampingnya beberapa kali. Namun, selalu saja pemandangan bangun tidurnya lebih mendebarkan dibanding pema

