Malam ini aku jadi bertemu Risa dan Dokter Arga. Mumpung anak itu ke Jogja. Kebetulan, sejak kami selesai UKMPPD, kami memang belum tatap muka lagi. Komunikasi kami selama ini hanya intens lewat daring. Selain itu, aku juga memahami kalau hidupnya kini telah ‘baru’. Dia tidak lagi single, melainkan ada suami yang harus diurus. Aku tidak mungkin sering-sering mengganggunya. Aku harus tahu diri. “Enak beneran, kan, Bumil?” tanyaku setelah Risa menelan suapan pertama. Kalau dari ekspresinya saat ini, harusnya sesuai ekspektasi. Aku mengajaknya makan di salah satu restoran dengan tema masakan Timur Tengah. Menu andalannya adalah daging kambing. Tentu, sebelum aku merekomendasikan, aku mencobanya lebih dulu. Rasanya enak, bahkan kedua orang tuaku pun approved. Bagiku, daging kambing adalah

