Mas Gala ini niat sekali. Sudah mentansfer sepuluh juta dengan dalih beli eskrim, makan siang kali ini dia malah memesankan banyak makanan untuk diriku dan teman-teman. Aku tidak berani menolak karena niat baiknya berhubungan dengan orang lain. Maksudku, barangkali memang sudah rezeki para temanku lewat Mas Gala. Aku tidak ingin membatasi rezeki mereka karena keegoisanku. “Udah aku pesan, Ma. Nanti jam makan siang diantar.” Mas Gala memang sedang meneleponku, memberi tahu soal traktiran dadakan. “Hm.” “Jangan cuma hm. Jawabnya yang bener.” “Iya, Mas. Makasih.” “Ingat, nanti malam ngobrol.” “Iya.” “Nanti aku jemput.” “Iya.” “Ngomong lebih dari sepuluh kata enggak akan bikin kamu bisulan, Ma.” Aku nyaris tertawa mendengar kata ‘bisulan’. Untungnya, aku berhasil menahan. “Mas ini

