PERHATIAN MANIS

1800 Kata

Di dalam lift, Helia bersandar pada dinding stainless yang dingin. Bintang awalnya memberi jarak, sekitar satu langkah lebar. Lift bergerak turun. Helia mencoba menenangkan napas. Ada sesuatu dalam ruangan sempit itu yang membuat suara detak jantungnya terdengar lebih jelas. “Kenapa, Izora?” tanya Bintang, khawatir. Helia menggeleng. “Masih kebayang semalam, jadi gugup banget.” Tangan Bintang tak menyentuhnya, namun ia bergeser lebih dekat hingga lengan mereka menempel, dan kedekatan itu membentuk ruang aman bagi Helia. “You are safe.” Helia menunduk, pipinya menghangat tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. “Hmm.” Layar di dinding lift menunjukkan nomor lantai yang terus menurun. Empat, tiga, dua. Saat angka berubah menjadi huruf L menyala, ponsel Bintang bergetar. Teteh Yuna Calli

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN