Pagi datang ke Bandung tanpa tergesa. Cahaya menyusup lewat celah tirai, jatuh di lantai kamar tamu tempat Grari terbangun. Ia membuka mata perlahan, tidak langsung bangkit. Rumah itu terasa hidup dengan cara yang tenang—bunyi sendok dari dapur, air mengalir, langkah pelan yang tidak berusaha disembunyikan. Ia duduk, menarik napas, lalu berdiri. Pintu kamar dibuka setengah. Aroma kopi menyambut. Felisha berdiri di dapur, punggungnya menghadap. Rambut terikat rendah, kaus tipis, celana rumah. Geraknya sederhana. Tidak ada yang dibuat-buat. “Kamu bangun.” Grari mengangguk. “Aku dengar suara.” Felisha menuang kopi ke dua cangkir. “Aku bikin sarapan seadanya.” “Cukup.” Mereka duduk di meja kecil. Cahaya pagi memantul di permukaan kayu. Tidak ada ponsel. Tidak ada agenda. “Kamu tidur.”
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


