Kereta melambat saat memasuki stasiun Bandung. Grari duduk tegak, kedua telapak tangannya bertemu di antara lutut. Ia tidak membawa map. Tidak ada berkas. Tidak ada rencana. Ponselnya disimpan di saku jaket, layar mati sejak Jakarta. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia datang tanpa tujuan yang bisa dirapikan menjadi agenda. Pintu kereta terbuka. Udara Bandung menyentuh wajahnya—dingin, tipis, jujur. Grari turun, melangkah di peron yang ramai, lalu berhenti sebentar. Ia melihat orang-orang bergerak cepat, memanggul tas, tertawa kecil, menunggu jemputan. Hidup berjalan, tidak menunggu siapa pun. Ia memanggil taksi, menyebut alamat singkat, lalu duduk diam sepanjang perjalanan. Jalanan yang dikenalnya menyapa dengan cara lama. Pohon-pohon yang sama. Toko yang sama. Lampu lalu l

