Bab 83

1163 Kata

Wulan berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Rambutnya rapi. Jasnya pas. Wajahnya dipoles tipis, cukup untuk kamera, tidak berlebihan. Ia menatap pantulan dirinya, lalu mengangguk kecil, seolah menyepakati sesuatu yang baru saja diputuskan. Di ruang sebelah, dua staf menunggu dengan tablet menyala. Mereka berbicara pelan, menimbang kata. Tidak ada tawa. Tidak ada candaan yang biasanya menyertai hari-hari kampanye. Udara terasa berat, seolah semua orang tahu langkah hari ini bukan awal, melainkan pengejaran. “Jam sepuluh,” salah satu staf membuka. “Media sudah diundang.” Wulan meraih tas, melangkah keluar kamar. “Undangannya jelas?” “Jelas,” jawab staf lain. “Klarifikasi.” Wulan berhenti sebentar. “Bukan pembelaan.” Staf mengangguk cepat. “Tentu.” Di Bandung, Felisha menut

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN