Klakson terdengar putus-putus. Pedagang membuka lapak. Pegawai berdasi berjalan cepat sambil menatap ponsel. Tidak ada yang tahu bahwa di sebuah gedung abu-abu di sudut kota, sesuatu sedang diserahkan tanpa sorotan kamera. Grari tiba lebih awal. Mobil berhenti di area parkir belakang. Tidak ada rombongan. Tidak ada sirene. Hanya satu tas tipis di tangannya. Ia berjalan menyusuri koridor panjang dengan langkah terukur. Dinding berwarna pucat memantulkan cahaya lampu neon yang dingin. Radit berjalan di sampingnya. Wajahnya tenang, matanya fokus. Tangannya memegang map cokelat yang tampak biasa, tapi berat isinya terasa dari cara ia menggenggam. “Semua lengkap,” Radit membuka suara pelan. Grari mengangguk. “Urutannya.” “Aliran dana. Waktu. Peran penghubung. Bukti pendukung.” “Tanpa inte

