Matahari muncul ragu di balik awan tipis, cahayanya jatuh lembut di lantai kamar Felisha. Ia duduk di tepi ranjang, rambut tergerai, punggung sedikit membungkuk. Semalaman ia tidak benar-benar tidur. Pikirannya berputar, bukan pada pertengkaran semalam, melainkan pada jeda setelahnya. Jeda yang panjang. Jeda yang terasa jujur. Felisha berdiri, membuka jendela. Udara dingin menyentuh wajahnya. Ia menarik napas dalam. Kota di bawah bergerak pelan. Penjual roti lewat. Motor melintas. Hidup berjalan, seolah tidak tahu ada seorang perempuan yang sedang menimbang ulang hidupnya sendiri. Ponsel di meja tidak berbunyi. Felisha tidak mengeceknya. Ia tahu jika ada pesan, ia akan membacanya. Jika tidak ada, ia juga akan baik-baik saja. Setidaknya pagi ini. Di Jakarta, Grari bangun dengan kepala be

