Felisha berdiri di depan cermin besar di kamar pribadinya, menatap bayangannya sendiri. Batik pkk hijau tosca yang dijahit Bu Darmi seminggu lalu kini sudah pas di tubuhnya. Lembut, formal, tapi tetap menonjolkan sisi elegan yang khas dirinya. Kain batik bermotif mega mendung membalut pinggangnya, dan bros emas kecil tersemat di d**a kanan — simbol resmi PKK Provinsi Jawa Barat. Ratih, ajudan pribadinya, menata scarf putih di bahu Felisha dengan rapi. “Ibu kelihatan anggun sekali,” katanya sambil tersenyum. “Ini acara pertama Ibu, jadi pasti semua mata tertuju.” Felisha menarik napas panjang. “Itu yang bikin aku gugup, Ratih. Aku gak terbiasa jadi pusat perhatian.” “Kalau boleh jujur, Bu,” Ratih menatapnya lewat pantulan kaca, “Ibu bukan cuma pusat perhatian. Ibu simbol baru. Semua

