Langit Bandung masih meneteskan sisa hujan ketika mobil hitam mereka memasuki gerbang rumah dinas gubernur. Lampu taman memantulkan cahaya ke permukaan basah, dan aroma tanah bercampur bunga kenanga memenuhi udara. Felisha, yang tertidur sepanjang perjalanan dari Pangandaran, perlahan membuka mata. Cahaya lampu jalan menyorot wajahnya dari sela gorden mobil, membuat garis lembut di pipi dan bibirnya. Grari menoleh sekilas, menahan diri untuk tidak terlalu lama memandang. Ia hanya berkata pelan, “Kita udah sampai.” Felisha menguap kecil, lalu tersenyum setengah sadar. “Bandung lagi. Rasanya baru aja kita ninggalin tempat itu.” “Bandung dan laut punya waktu sendiri,” jawab Grari pelan. “Jakarta gak pernah nunggu.” Mobil berhenti di halaman. Tapi sebelum mereka sempat turun, lampu bli

