Hujan rintik mengguyur halaman rumah dinas ketika Grari berangkat pagi itu menuju bandara. Mobil dinas menunggu di depan, lampunya menembus kabut tipis Jakarta yang belum bangun sepenuhnya. Felisha berdiri di teras, memeluk lengannya sendiri, melihat Grari memeriksa kembali map acara partai di Padang. Ia tampak rapi dalam setelan biru gelap, rambutnya tersisir ke belakang, wajahnya serius—terlalu serius, seperti seseorang yang berusaha menyembunyikan sesuatu di balik rapinya kemeja. “Kamu yakin nggak perlu aku ikut?” tanya Felisha, suaranya kecil tapi stabil. Grari menoleh, menatapnya lama. “Kamu ada acara Bandung. Jangan batalin. Itu tugasmu juga.” Felisha mengangguk. Ia tahu itu benar. Ia punya jadwal mendampingi forum perempuan pengusaha di Bandung—agenda penting dan sensitif yang me

