Bab 44

1000 Kata

Malam di Bandung merayap perlahan. Lampu-lampu kota berpendar seperti bintang kecil yang jatuh ke tanah, bergumul dengan kabut tipis yang mengambang di udara. Felisha duduk bersandar di tepi tempat tidur, tubuhnya terbungkus selimut lembut, sementara Shinta sudah tertidur di sofa kecil di sisi ruangan, memeluk bantal hotel seperti anak kecil yang kelelahan usai bercerita terlalu banyak. Felisha memandang layar ponselnya yang redup. Sudah hampir jam sebelas. Ia membuka kontak—nama Grari berada di paling atas. Ia tidak yakin siapa yang rindu lebih dulu. Tapi jarinya otomatis bergerak menyentuh layar. Ia menunggu nada sambung, jantungnya berdetak seperti mencoba melompat keluar. Di Padang, Grari baru selesai rapat internal partai. Wajahnya terlihat lelah, dasinya sudah longgar, dan map-m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN