Felisha belum benar-benar tertidur ketika alarm kecil dari ponselnya berbunyi. Bukan dering biasa—lebih seperti getaran pendek yang tertahan. Ia meraih ponsel di meja sebelah tempat tidur hotel, memastikan agar suara itu tidak membangunkan Shinta yang tertidur pulas di sofa. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya turun ke perut. Haris Jamil. Nama yang selalu berhasil membuat Felisha menegang. Nama yang selama ini ia hindari kecuali sangat terpaksa. Ia menelan ludah. Jari-jarinya dingin. Ia bisa saja tidak mengangkat. Bisa saja berpura-pura sibuk. Tapi ia tahu: Haris Jamil tidak pernah menelepon tanpa alasan. Dan ketika ia menelepon, menolak bukan pilihan yang membawa keamanan. Felisha menarik napas panjang, mengangkat ponsel, menekan ikon hijau. “…Halo, Pah.” “Felisha.”

