Grari pulang dari Padang lebih cepat dari jadwal. Pesawatnya mendarat menjelang siang, dan setelah briefing singkat dengan tim daerah, ia memutuskan langsung ke Bandung—ke rumah dinas tempat Felisha menginap. Jalanan macet tipis oleh wisatawan, udara Bandung terasa lebih dingin, dan langit tampak berat, seakan menunggu sesuatu meledak dari awan. Ketika Grari memasuki rumah dinas itu, ia melihat Felisha duduk di ruang tamu sambil memegang secangkir teh yang sudah setengah dingin. Rambutnya terurai, wajahnya sedikit pucat, dan mata itu—mata yang biasanya jernih—tampak kehilangan cahaya. Ia tersenyum tipis begitu melihat Grari, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Pulang?” tanyanya. “Nggak kangen?” balas Grari pelan, mencoba menggoda. Felisha tersenyum kecil, tapi tidak menjawab. Ia ha

