Matahari Bandung merangkak perlahan ketika Felisha membuka mata. Ia tidak langsung sadar di mana ia berada. Cahaya lembut masuk dari sela tirai krem, menghangatkan pipinya. Yang pertama ia rasakan adalah sesuatu yang menahan pinggangnya dengan mantap. Berat, hangat, dan… familiar. Ia mengedip pelan. Baru ketika ia menengok ke samping, melihat d**a Grari yang naik-turun teratur—pakaian masih lengkap, tanpa ada yang berantakan, hanya tubuh besar laki-laki itu yang tidur memeluknya seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas—ia sadar. Mereka sekasur pada akhirnya untuk pertama kali. Mereka bersatu untuk pertama kali, dan semua terasa normal bahka terlalu normal. Dan untuk pertama kalinya… Felisha tidak merasa bersalah. Ia merasa aman Subuh tadi saat perjalanan turun ke Bandung, Felish

