Felisha terbangun karena sesuatu yang hangat menyentuh dahinya—ringan, seperti sayap kupu-kupu yang menyapa kulit. Matanya membuka perlahan. Kamar masih remang-remang, tirai belum sepenuhnya terangkat. Udara Bandung pagi itu dingin, menusuk tulang tapi sekaligus menyegarkan. Dan Grari… tidur tepat di sebelahnya, satu lengan melingkari pinggang, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Felisha. Sudah seminggu semenjak mereka satu kasur dan hidup Felisha terasa lebih hangat. Ia menatapnya sebentar—wajah tenang itu, rambut yang sedikit berantakan, dan cara napasnya terdengar dekat, nyaris menyentuh kulit Felisha. Rasanya seperti bangun di dunia yang berbeda dari semalam. Dunia yang lebih lembut, lebih jujur. Gerakan kecil Felisha membuat Grari membuka mata. Ia menatap Felisha dengan mata yang

