Bab 49

1015 Kata

Siang itu Bandung tampak hidup dengan cara yang berbeda. Halaman Gedung Sate dipenuhi tenda-tenda putih, stand UMKM, dan mural besar bertuliskan Kolaborasi untuk Kota. Para tamu berdatangan dengan baju terbaik mereka, kru media berlarian membawa kamera, dan musik tradisional mengalun dari panggung utama. Felisha berjalan di samping Grari, mengenakan kebaya modern berwarna biru lembut dengan detail renda halus di lengan. Rambutnya disanggul simpel; ia terlihat seperti perempuan yang lahir untuk acara seperti ini—tenang, elegan, dan tanpa sadar mencuri perhatian. Namun Felisha sendiri tidak percaya ia bisa setenang itu. Jantungnya berdebar, telapak tangannya sedikit berkeringat. “Tenang,” kata Grari pelan di sampingnya. “Kamu bagus banget hari ini.” Felisha menatapnya, bibirnya membentuk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN