Scars 44 Mungkin

822 Kata

“Jangan menangis, Di. Kumohon, tetaplah di sini, bersamaku.” Pinta Evan lemah. Apakah waktunya sudah tiba? Mereka akan terpisah? *** Adhia tertunduk lesu, di pinggiran gundukan makam Evan. Tanah yang masih basah itu semakin basah oleh air matanya yang terus menetes. Ya, akhirnya Evan pergi meninggalkannya. Meninggalkan dirinya bersama Denan yang masih belum genap sepuluh tahun. Entah kenapa seperti terulang, rekaman peristiwa saat Adhia duduk di sisi makam Ara. Adhia menyenderkan kepala ke pundah seorang lelaki tampan, yang seperti tahu akan kesedihannya. Dielusnya pucuk kepala Adhia dengan harapan bisa sedikit memberikan kekuatan. “Kak, pulang yuk. Kasihan Denan. Dia sepertinya kelelahan.” Bisik Enver, agar Adhia tidak terlarut dalam kesedihan. “Pulang yuk nak, mama juga ingin ist

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN