“Adhia, maaf ya aku malah membawamu kembali ke Indonesia. Padahal sepertinya kamu dan Denan sudah nyaman di Kanada.” Adhia melihat ke manik mata coklat Evan yang semakin kuyu. Dia tahu Evan sedang sakit parah, sayangnya Evan tidak mau berbagi info tentang penyakitnya. “Gak papa Mas, aku malah suka, kembali ke Indonesia dan tinggal berdekatan dengan bapak kan artinya kita bisa berkumpul lagi sekaligus merawat bapak dan mama. Bapak sudah sepuh, kasian kalau tidak ada yang menemani beliau. Mama juga sebenarnya rewel kan minta kita untuk mengurus sebagian usaha mama.” Adhia memijat pelan pundak Evan. “Terima kasih, kamu sungguh pengertian.” “Denan malah seneng banget tuh mas, bisa mandi di kali, manjat pohon, naik sapi. Kalau di Kanada kan gak mungkin.” “Iya, kamu benar, wajahnya lebih

