“Di… bagaimana kabarmu?” Tarendra bertanya dengan nada lirih. Kerinduan membuncah di dadanya. Puluhan tahun dia selalu membayangkan perempuan mungil nan cantik ini. Puluhan tahun selalu terselip doa terucap khusus untuk Adhia. Berharap agar kelak mereka bisa kembali bersatu. Jahatkah doanya? Entah. Dia tidak merasa itu jahat. Dalam doanya terucap agar menjadikan Adhia sebagai bidadari surganya. Dan sekarang bidadari itu ada di depannya. Mata bulat indahnya tetap sama. Wajah cantiknya tampak semakin dewasa dan meneduhkan siapapun yang melihatnya. Dia ingin sekali membuang meja yang menjadi penghalang, menjadi batas antara dirinya dan Adhia. Merengkuh tubuh mungil ke pelukannya, mengangkatnya dan berputar seperti yang dulu sering mereka lakukan. Dulu… ya dulu… saat itu semua belum terjadi.

