Tarendra tampak duduk termenung di halaman rumah mewah yang sengaja dia beli, untuk ditinggali bersama Adhia dan Fanny. Rumahnya masih kosong, sekosong hati dan pikirannya. Hampa. Dia memang sengaja tidak membeli perlengkapan rumah, agar Adhia saja yang memilih mana barang-barang yang dia sukai, karena Adhia yang lebih sering tinggal di rumah dibanding dirinya. Hari ini Adhia akan pergi bersama Evan, suaminya. Suami sahnya. Menuju tempat yang Tarendra tidak tahu. Layaknya burung dengan sayapnya yang patah, Tarendra tidak mampu untuk berbuat apapun lagi. "Aku akan mengikuti Mas Evan. Dan itu bukan di Jakarta, bukan pula di Indonesia." Hanya itu yang mampu Tarendra ingat. Perempuan mungil yang dicintainya akan pergi, meninggalkannya. "Papa..., Fanny kapan bisa sekolah ke sekolah yang bar

