"Apa ini, Di? Undangan apa ini? Kenapa ada namamu tercetak di undangan ini?" Tarendra bertanya dengan nada bergetar, tangannya gemetar membuka undangan itu. Dan sedetik kemudian dia terjatuh. Badannya meluruh ke lantai. Adhia, Adhianya akan menikah. Tapi tidak dengannya, melainkan dengan lelaki lain. ***** "Apa ini, Di? Ke... kenapa ada namamu tertera di undangan ini?" Dengan nada suara bergetar, Tarendra bertanya lirih. Kembali menatap kertas tebal berbentuk segiempat yang dia pegang. Berharap matanya salah melihat, berharap nama calon pengantin yang tertera di undangan itu bukanlah nama perempuan mungil yang sekarang ada di hadapannya. Perempuan cantik yang selama belasan tahun selalu ada di hatinya, selalu dia lafadzkan namanya dalam tiap doa. Tapi kedua indera pemglihatannya masih

