Pyarr
Belum selesai keterkejutan Dea mendengar bisikan Maura, Dea kembali dibuat terkejut saat melihat akting Maura yang seolah-olah dirinya menampar Maura.
"Tidak apa-apa Dea, aku mengerti perasaan mu. Tamparan ini memang pantas buat aku. " Ujar Maura dengan wajah sedihnya, membuat Sony marah karena kondisi Maura sangat lemah seperti hasil yang diberikan oleh dokter soal kondisi Maura.
"Dea, kenapa kamu menampar Maura, kamu kan tau Maura lagi sakit? "tanya Sony marah.
Dea langsung mendekati Maura, dan menampar Maura dengan kuat, hingga meninggalkan bekas 5 jari di pipi Maura, membuat Sony semakin marah besar.
"Dea! " Sony membentak Dea, hingga membuat pengunjung yang lainnya sontak melihat ke arah Sony.
"Aku tipe orang yang tidak mau rugi setelah aku kembali pada kesadaran aku. Kamu bilang aku menampar dia kan, ya itu, sesuai dengan yang kamu bilang. "Ujar Dea yang langsung pergi begitu saja, meninggalkan Maura dan Sony. Sony tidak percaya dengan perubahan sikap Dea yang begitu sangat berani, apalagi sikap dinginnya.
"Kamu tidak apa-apa? "tanya Sony dengan lembutnya pada Maura, dan dengan cepat Maura mengajak Sony untuk pulang karena ia malu dilihat banyak orang.
Sesampainya di rumah, Dea langsung mendapat beberapa pertanyaan dari kakek Irawan, dan kebetulan di rumah juga ada kakek Jimmy, mereka berdua bertanya pada Dea, bagaimana tentang perjalanan hubungan Dea dengan Sony. Karena Dea sudah merasa tidak tertarik lagi untuk membicarakan soal Sony, dengan malesnya Dea menjawab hanya dengan kata baik-baik saja.
"Dea, besok malam keluarga Mardhani akan mengadakan pesta untuk kedatangan Putra satu-satunya, dan memperkenalkan Putra satu-satunya itu pada publik yang baru saja tiba semalam ke kota ini. Dia yang akan memegang kendali bisnis mereka. Kita berdua bersusah payah untuk mengajukan kontrak kerjasama dengan keluarga kaya itu, dan kamu harus datang bersama Sony, dan jangan lupa juga, agar kamu bisa mengambil hati tuan muda itu agar pekerjaan kita jadi lancar. "Ujar kakek Jimmy yang langsung dibenarkan oleh kakek Irawan, berharap dari kedua cucu itu bisa dijadikan andalan untuk kelancaran bisnis mereka, dan dengan malasnya dia mengganggukan kepalanya.
"Kakek tidak perlu khawatir, besok malam aku akan melakukan Tugasku dengan baik. "Ujar Dea dengan nada santainya, lalu membiarkan kedua kakek tua itu untuk bercanda gurau, sedangkan Dea memilih untuk berganti pakaian, dan setelah itu ia langsung menuju ke kantor. Yah, karena kedua kakek tua itu sudah begitu sangat tua, jadi kedua kakek itu menyerahkan soal pekerjaan pada cucu mereka, yaitu pada Dea dan juga pada Sony. Makanya mereka setuju untuk menjodohkan Dea dan juga Sony, itu agar mereka semakin memperkuat perekonomian mereka, agar kekayaan yang dimiliki oleh mereka masing-masing tidak jatuh pada tangan orang yang salah, karena menurut mereka, di antara mereka berdua itu sangat baik, menurut pemikiran mereka masing-masing.
Setelah Dea pulang dari kantor, ternyata di rumah sudah ada Sony. Jujur saja Dea sudah malas melihat keberadaan Sony, tidak seperti dulu, di mana dulu kalau ada Sony, pasti ia merasa senang karena kedatangan pria yang dia cintai. Tapi, setelah terjalinnya pertunangan mereka, di mana selama pertunangan itu hanya ada luka di hati Dea, Dea sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan cintanya pada Sony, dan memilih menutup hatinya pada Sony, hingga sejak kejadian di malam itu bersama Lucky, pria yang tidak Dea kenal, itu berhasil menghapus nama Sony di hatinya, hingga saat melihat keberadaan Sony, Dea jadi merasa malas dan merasa tidak Sudi untuk menyapa Sony.
Dea berniat untuk melewati Sony, dan berniat ingin langsung ke kamarnya, tapi Sony langsung membuka suara agar Dea tidak pergi.
"Apa begini cara menyambut tamu yang sejak tadi menunggu? "tanya Sony yang membuat Dea langsung memutar bola matanya malas.
"Mau apa kesini? Katakan saja berterus terang. "Kata Dea dengan nada datarnya. Sony pun berdiri dan mendekati Dea.
"Dea, gara-gara kamu tadi, sekarang Maura masuk ke rumah sakit. Apa tidak bisa kamu sedikit berbaik hati pad dia untuk bersikap lebih lembut lagi. Fisik dia itu lemah, tidak sekuat kamu, kenapa kamu begitu jahat sama dia. Kamu sudah merebut aku dari dia, tapi dia tidak pernah dendam sama kamu, apa kamu tidak bisa memikirkan soal hati dia. "Seketika terbitlah senyum kecut dari bibir Dea saat mendengar deretan kalimat yang terucap dari bibir Sony. Dea berulang kali mengulang kalimat fisik lemah Maura. Dea juga berulang kali tersenyum karena ternyata kedatangan Sony hanya untuk memarahi dirinya demi Maura. Terasa sakit sih, tapi Dea yang sudah memutuskan untuk menutup hatinya, membuang cintanya, Dea jadi lebih tenang, tidak merasa terluka seperti sebelumnya.
"Apa setelah kamu datang kesini hanya demi Maura itu bisa membuat fisik Maura jauh lebih kuat? "tanya Dea yang langsung membuat Sony diam.
"Sudahlah. Buang-buang waktu. Pergi temui Maura, karena aku tidak merebutmu dari dia. Tunggu saja kapan waktunya tiba semuanya akan berakhir! "ujar Dea dengan nada dinginnya, lalu membawa langkah anggunnya menaiki anak tangga, membuat Sony ingin marah, tapi percuma karena Dea sudah ada di kamarnya. Sony langsung menuju ke rumah sakit untuk menjaga Maura.
"Selidiki siapa tunangan dia! "dengan penuh ketegasan, Lucky memberi perintah pada orang yang sedang berdiri di sampingnya dengan tegap. Saat ini, Lucky ingin mengetahui secara detail mengenai orang terdekat atau orang yang dekat dengan Dea.
"Baik, Tuan muda. "Dengan penuh kepatuhan, pria yang selalu berdiri dengan setia di samping Lucky langsung mematuhi setiap perintah Lucky.
Tidak berselang lama pria itu pergi, ia kembali menghampiri Lucky dengan membawa beberapa berkas mengenai Dea.
"Dia satu-satunya cucu Kakek Irawan. Dia bertunangan dengan Sony, cucu dari sahabat kakek Irawan. Usia Nona saat ini masih 20 tahun, tapi memiliki sifat yang sangat tegas dan dewasa. Nona Dea bertunangan dengan Sony, atas perjodohan dari kakek Irawan dan kakek Jimmy, karena kakek Irawan tau kalau Dea menyukai Sony. Dan kebetulan, nanti malam Nona Dea sekeluarga beserta Sony akan hadir di pesta keluarga besar kita. "Dengan penuh rinci, Rival memberikan informasi hasil penyelidikannya pada Lucky, membuat Lucky tersenyum.
"Atur semuanya, dan katakan pada Mami dan juga papi kalau aku bersedia datang ke pesta nanti malam. "Kata Lucky yang membuat Rival bingung, pasalnya kemarin Lucky menolak untuk mengikuti pesta yang di anggap lebay oleh Lucky, tapi kini malah menyetujuinya.
"Bukannya Tuan tidak berminat dengan pesta yang Anda anggap sebagai pesta lebay? Kenapa sekarang Anda ingin menghadiri pesta itu? "tanya Rival bingung.
"Sudahlah. Turuti saja apa kataku. "Kata Lucky, lalu berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Rival yang sedang kebingungan.
Dea yang tengah mendapat ceramah dari Kakek Irawan hanya menyibukkan diri dengan ponselnya, lantaran Dea tidak ke salon untuk mempercantik diri untuk kesiapan nanti malam. Dea yang merasa dirinya cantik, tidak perlu harus ke salon, bahkan dengan yakinnya ia bisa mendapatkan tanda tangan kontrak kerja sama dengan perusahaan Mardhani.
"Dea, kamu denger apa yang kakek bilang? "tanya Irawan dengan nada yang terdengar mulai lelah.
"Dengar kok, Kek. Makanya kakek tenang saja. " Jawab Dea santai
"Kenapa diam saja kalau dengar? "tanya Irawan lagi
"Kakek, percayakan saja urusan nanti malam sama aku, gak perlu capek-capek ke salon, kalau memang sudah rejeki, sudah jalannya kita bisa dapetin tanda tangan tuan muda itu, kita pasti bisa kerja sama dengan perusahaan besar itu. Jadi Kakek tidak perlu heboh. Serahkan sama aku. " Ujar Dea yang semakin panjang lebar kalimatnya, karena Dea benar-benar merasa lelah, lelah karena baru pulang dari kantor juga, sampe rumah malah di sambut ceramah.
"Awas kalau sampe gagal. Kakek cabut gelar berani dan hebat mu. Siap-siap, kita gak boleh terlambat. Pokoknya kita harus tampil istimewa. Cepetan siap-siap. "ujar kakek Irawan mengancam Dea, lalu pergi begitu saja setelah menyuruh Dea bersiap-siap.
Dea pun dengan malas bersiap-siap untuk pergi ke pesta keluarga MARDHANI. Penampilan Dea kali ini benar-benar sangat memukau, sangat cantik bak bidadari. Dea keluar yang langsung di sambut dengan senyuman manis oleh kakek Irawan saat melihat penampilan Dea yang begitu sangat sempurna.
Karena kakek Irawan sudah janjian dengan kakek Jimmy untuk berangkat bersama, akhirnya mereka pun berangkat bersama ke pesta yang di gelar di gedung mewah itu.
Sesampainya di pesta, Dea tidak berhenti tersenyum sesuai perinta kakek Irawan, agar cantiknya tidak luntur. Seketika senyuman Dea pudar saat melihat ternyata ada Maura juga disana, yang Dea yakini, Sony yang mengajaknya.
Dea mulai masuk ke dalam dengan posisi tangan yang sedang memeluk lengan Sony, seperti pasangan pada umumnya.
Karena semua tamu sudah hadir semua, orang kepercayaan Deren langsung mengambil mic, meminta agar semuanya bersiap menyambut kedatangan tuan muda mereka.
Sepasang kaki yang sedang melangkah melewati karpet merah mulai membuat semua orang yang datang terpesona, saat melihat tuan muda yang akan mereka sambut telah tiba, tapi tidak dengan Dea.
"Ini mustahil. Benar-benar mustahil. Mati aku. Aku salah sasaran. Kali ini benar-benar tamat riwayat aku." Gumam Dea dalam hati dengan mulut ternganga karena terkejut saat melihat tuan muda yang akan ia sambut.