Lidia masih berjuang antara hidup dan mati, wajah Adnan masih terlihat sangat cemas karena tak kunjung mendapat kabar dari dokternya. Satu jam berlalu, dua jam berlalu, waktu hampir bergulir dari pagi ke siang hari. Namun tak kunjung ada kabar dari dalam kamar bersalin. Tak lama kemudian ayah dan ibunya ikut datang ke sana, dia melihat putra satu-satunya sedang cemas mondar-mandir di depan ruangan bersalin. "Sabar, istrimu pasti baik-baik saja." Ujar ibunya dengan senyuman lembut. Dia mengusap pelan punggung Adnan. "Susah berapa lama di dalam?" Tanya Ayahnya pada putranya tersebut. "Sejak pagi buta pa, lama banget ya pa? Tahu gini Adnan nggak biarin Lidia hamil. Pasti sakit sekali kan pa? Lama sekali, Haaahhhhh!" Dengusnya dengan wajah gusar, karena Lidia tak kunjung keluar dari

