Ruang kerja Nicko di lantai teratas gedung perusahaan terasa berbeda dibandingkan dengan hari-hari yang biasa. Lelaki itu tidak kunjung bisa duduk dengan tenang, seakan-akan ada paku yang bertebaran di kursinya, sehingga pantang baginya untuk duduk di sana. Ia menatap ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu nama. Siapa lagi kalau bukan, Don. Rasanya, ia masih tidak rela. Rasa cemburu yang ia coba tekan semalam kembali meledak pagi ini, tanpa sebab yang pasti. Bagaimana jika saat ini Don sedang berada di depan Nona Lucy, tersenyum ramah, dan mengenang masa kecil yang tidak pernah Nicko ketahui? Bagaimana jika mereka makan siang bersama, tertawa, dan membicarakan hal-hal yang membuat Nicko merasa seperti orang asing di hidup

