Siksaan — Awal Pertemuan
"Aslan, apakah nona muda sudah ada di gudang belakang?" tanya Baron pada pengawalnya.
"Sudah dari semalam Tuan."
"Bagus, sekarang waktunya memberikan dia obat lagi," ucap Baron dengan senang hati.
"Tuan, ini adalah pemberian obat yang ke 90 hari, apakah nanti tidak kuatir nona muda akan overdosis, Tuan?" tanya Aslan ragu melihat keputusan tuannya.
"Hah, masa bodoh, jika dia overdosis dan langsung game over ya biarkanlah! Takdir," jawab Baron seenaknya. Aslan sedikit terkejut mendengar keputusan tuannya. Namun, dia tidak punya hak untuk mengubah keputusan itu.
Masuk di ruangan gelap dan lembab, Baron langsung menyiramkan air hujan dari ember ke tubuh keponakannya yang sudah dirantai kuat.
"Bangun pemalas! Kau tidak bisa manja lagi. Sekarang cepat kau tandatangani surat kuasa ini, jika tidak Om akan terus paksa kamu minum obat ini dan akan terus siksa kamu!" bentak Baron pada Sandra.
"Ampun Paman! Sandra tak mau tanda tangan itu adalah harta warisan mama dan papa untuk Sandra. Jangan paksa Sandra lagi, Paman!"
"b******k! Kau tahu dan masih panggil aku Paman, tapi kau tak nurut sama Pamanmu ini hah!"
"Tidak, tidak mau!" teriak Sandra saat tangannya ditarik dan siap untuk menandatangani surat kuasa yang telah di siapkan oleh Baron.
"Baiklah sekarang aku akan buat kau nurut Sandra!" geram Baron.
Ctaarrr! Ctaarrr!
"Sakit paman! Tolong jangan cambuk Sandra pakai rantai lagi Paman! Tolong!" mohon pilu Sandra yang sekarang meringis dan merasakan perih saat kulitnya robek dan darah kembali membasahi baju lengan pendeknya yang sudah robek-robek karena dicambuk beberapa kali setiap hari selama hampir 10 hari.
"Om tak akan cambuk kamu lagi bila kamu mau tanda tangani segera!"
"Tidak... Sampai kapanpun Sandra tak akan berikan hak apapun yang bukan milik Om!"
"Kurang ajar! Keras kepala juga kau ya!"
Ctaarrr! Ctaarrr! Bughhh! Bughhh!!
"Ah, sakit, sakit hentikan Paman jangan tendang Sandra lagi, sakit Paman... huhuhu... huhuhu."
"Tidak peduli kau harus nurut kata Om!"
Ctaarrr! Ctaarrr!
"Tidak. Sandra tidak bisa mengingkari janji Sandra pada mama dan papa. Tidak. Tidak bisa Paman, tolong jangan rebut milik Sandra. Itu warisan satu-satunya buat Sandra."
"Kau tidak layak dapatkan semua itu. Selama ini Paman yang sudah susah payah bantu papa mama kamu kelola perusahaan itu! Jadi itu adalah hasil kerja keras Om selama sepuluh tahun!"
Bughhh! Buggghhh!
Tendangan kaki Baron yang sekarang memakai sepatu kulit itu kini makin terasa sakit di perut dan sekujur tubuh Sandra.
"Ampun Paman, ampun. Jangan ambil warisan papa mama," mohon Sandra lagi. Namun Baron sudah tak sabar dia langsung meminumkan obat penenang yang keras dalam dosis tinggi, yang dia baru beli lewat sindikat obat terlarang ke mulut Sandra yang langsung muntah dan sesak nafas.
"Aslan paksa dia tanda tangan sekarang!"
Aslan langsung meraih tangan Sandra dan dalam setengah sadar dan tidak Sandra pun di paksa menandatangani surat itu dengan ancaman. "Kau pilih tanda tangan atau aku akan buat kau meronta di bawah tubuhku sambil menikmati malam yang panjang dan indah, hmmm? Kau cantik dan aku akan sangat bisa untuk puaskan kamu!" bisik Aslan pada Sandra yang setengah sadar membuat Sandra ketakutan dan gemetar di bawah ancaman itu.
"Baik, aku tanda tangan. Jangan, jangan nodai aku, aku mohon, aku mohon!" isak Sandra yang merasa diteror dengan tangan kasar yang mulai meraba semua bagian tubuhnya yang sudah terlihat jelas di balik pakaiannya yang sudah robek-robek itu.
"Bagus! Sekarang tanda tangan!" bentak Aslan. Sandra segera menandatangani surat kuasa itu. Tapi dia bukan membubuhkan tanda tangan aslinya. Cuma sekedar coretan tipuan untuk menyelamatkan dirinya.
Baron langsung merampas surat kuasa itu dari tangan Aslan. "Hahahahaa, bagus! Akhirnya kau nurut juga ya!" kata Baron sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aslan, bereskan dia!" perintah tegas Baron pada Aslan.
Daggg!!!
Sandra langsung ambruk dan tidak sadar lagi akibat pukulan keras Aslan di kepala Sandra dengan gagang senapan yang dia bawa. Pukulan beberapa kali ke kepala Sandra berhasil membuat darah merembes hingga ke lantai kotor gudang itu.
Aslan menyeret tubuh Sandra dan membawa pergi dari mansion mewah milik Sandra, warisan dari kedua orang tuanya yang sebulan lalu meninggal dalam kecelakaan parah.
Aslan membawa tubuh Sandra yang penuh luka dan berdarah-darah itu ke luar kota. Hingga tiba di jalanan sepi dekat hutan pinus itu tubuh Sandra dibuang begitu saja. Setelah dia cek nafas Sandra sudah tidak ada. Dia telah mati.
Dengan tenang Aslan membuang begitu saja ke bawah pepohonan pinus di pinggir jalan. Kemudian dia tinggalkan.
Mobil itu melesat pergi setelah Aslan memfoto kondisi Sandra yang terakhir saat dia dibuang begitu saja oleh Aslan dan membawa bukti itu balik ke Baron.
*****
Saga, 27 tahun, pemuda yang tampan dan gagah pulang dengan mengayuh sepeda ontelnya balik ke rumah peninggalan neneknya di Desa Sekarwangi. Desa di bawah kaki pegunungan dan perbukitan yang indah. Desa yang asri dan nyaman bagi Saga yang baru balik ke desa itu tiga bulan lalu.
Tiba di jalanan yang biasa dia lalui, yang menghubungkan desa Sekarwangi dengan kota di kecil pinggiran itu, Saga melihat ada sesuatu yang tergeletak begitu saja di bawah pohon pinus yang rimbun.
Saga mendekat dan curiga pada benda yang setengah di tutupi daun-daunan tersebut.
"Hah, itu apa ya? Kok seperti orang? Ada rambutnya tuh? Iya, orang itu mah, ada rambutnya dan ada tangannya tuh nyembul?" gumam Saga pada dirinya sendiri.
Saga turun dari sepeda ontel kesayangan kakeknya langsung mendekati pohon pinus tersebut.
"Astaga, gadis, seorang gadis, sudah mati belum?"
Saga menempelkan jarinya ke hidung gadis itu. "Hufff nafas dia kok lemah sekali, aduh gawat nih. Aku bawa ke rumah saja."
Saga memanggul gadis itu dan langsung dia bawa pulang. Lumayan jauh rumah kakeknya dengan pasar tradisional tempat dia bekerja. Sekitar 60 menitan dari sana.
Tiba di rumah peninggalan sang kakek, Saga langsung menggendong masuk tubuh gadis yang dia temukan itu.
"Aku harus cari obat dulu, kayaknya lukanya udah lama dan ada yang baru juga ini. Udah hampir infeksi. Mana bajunya udah robek semua! Siapa yang tega sama gadis cantik ini mana tubuhnya sexy deh. Lumayan sangat cantik. Kulitnya seharusnya putih bersih ini, cuma karena banyak darah kering yang menempel dia jadi kotor seperti ini. Biadab aku pun tidak suka siksa atau bunuh wanita, ini udah keterlaluan sih," kata Saga pada dirinya sendiri.
Saga keluar membeli banyak obat luka dan perban. Dengan hati-hati dia seka tubuh gadis itu dan dia obati luka-luka di tubuh itu.
Glek!
Jakun Saga naik turun saat dia mulai menyeka bagian d**a dan dalam gadis itu, Saga menelan salivanya dengan cepat, bagaimana pun dia seorang pria normal yang disuguhi tubuh molek gadis itu gairahnya pun terpancing.
Saga meraba bibir mungil gadis malang itu dengan ibu jarinya, mencoba menghapus darah yang mulai mengering di bibir sang gadis.
"Lembut, lembut sekali, hmmm, pasti manis." Tangannya kembali menyeka darah kering yang ada di sekitar luka-luka gadis itu. Saat tangannya tiba di dua gundukan kenyal itu langsung miliknya pun beraksi, celananya menggembung memperlihatkan aset kebanggaan miliknya yang ouh sungguh besar.
Saga langsung berhenti," s**t! Aku lama-lama bisa khilaf!" makinya pada dirinya sendiri.
"Sungguh menggoda, ahhh, lembut dan kenyal, s**t! Aku tak tahan jika lama-lama begini."
Saga langsung membersihkan dengan cepat noda darah kering itu, dia langsung ke kamar mandi.
Seerrrrrr!!!
Bunyi air shower yang dingin membasahi dirinya. Walaupun rumah sederhana sejak Saga tinggal di situ dia mulai merenovasi kecil-kecilan rumah peninggalan kakeknya sehingga model dan semua perlengkapan di rumah itu sekarang sedikit canggih juga seperti rumah di kota. Walaupun tetap sederhana.
"Aahhh, sial sudah lama aku tidak ke club dan tidak melampiaskan hasratku. Tapi malam ini, mengapa jadi nglunjak? Padahal sudah lama aku tidak b*******h lagi sejak kejadian itu!"
Saga masih tetap meredakan api gairahnya dengan caranya sendiri di kamar mandi.
Saat dia keluar dia melihat gadis itu membuka mata dan kebingungan, dia melihat sekitarnya dengan ketakutan. Lalu gadis itu kembali pingsan.
"Hei, hei bangun, bangun. Jangan pingsan lagi," ucap Saga sambil mengguncang kedua bahu gadis itu. Baru dia sadar ternyata ada darah yang banyak keluar dari kepala gadis itu.
"Darah! Ya ini darah. Akhirnya menyadari tadi. Jadi, kepalanya cidera seperti dipukul benda tumpul beberapa kali!"