Bab 117

1509 Kata

“Nayaka, ya? Temennya Alinka?” “Iya, Tante,” kata Nayaka menganggukkan kepala dengan sopan. “Kebetulan ada kerjaan di sekitar sini, jadi sekalian mampir.” Alinka hampir menyemburkan tawa mendengar kebohongan Nayaka itu. Memangnya seorang pebisnis sukses seperti Nayaka ada kerjaan apa di desa yang dipenuhi sawah dan kebun seperti di sini? “Oh gitu,” balas Mamanya Alinka mengangguk mengerti. Tadi setelah Nayaka selesai makan siang, Mamanya Alinka tiba-tiba saja terbangun dari tidur siangnya. Kemudian, mereka mulai berkenalan. Awalnya Alinka takut jika mamanya akan menanyakan hal aneh-aneh mengenai Nayaka. Namun, ternyata tidak. Mamanya cukup bisa membatasi diri untuk tidak melewati batas. Begitupun Nayaka, pria itu tidak semena-mena memperkenalkan diri sebagai pacar Alinka. Dia dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN