Pagi ini Nayaka bangun dengan perasaan lega. Rasanya sudah lama Nayaka tidak merasakan perasaan ringan seperti ini setelah seminggu belakangan banyak hal yang membuatnya hampir gila. “Selamat pagi, Pak,” sapa Farhan yang saat ini tengah berada di dalam lift. Jarinya menekan tombol agar pintu lift tetap terbuka. “Pagi,” balas Nayaka berjalan memasuki lift yang saat ini hanya ada mereka berdua. “Bagaimana kemarin, Pak? Anda sudah bertemu dengan Nona Alinka?” tanya Farhan. Senyum kecil bertengger di bibir Nayaka. Kepalanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan dari sekretarisnya itu. “Tampaknya semua berjalan lancar,” ucap Farhan ikut tersenyum, merasa lega akhirnya badai sudah berlalu. “Iya,” kata Nayaka. “Oh ya, bisa tolong kirimkan barang ke alamat rumahnya Alinka?” Farhan mengan

