Alinka berdiri di depan kafe dengan tatapan mengarah pada jam di pergelangan tangannya. Saat ini jarum jam tengah menunjukkan pukul tujuh malam lebih dua puluh. Biasanya jam tujuh malam Nayaka sudah sampai di depan kafe, menjemputnya pulang kerja. Namun, ini sudah lebih dua puluh menit, tapi Nayaka masih belum sampai. Alinka mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Segera ia mendial nomor pacarnya itu, ingin menanyakan keberadaannya saat ini. Namun, ponsel Nayaka sedang sibuk. Alinka menghela napas dalam. “Mungkin masih dalam perjalanan,” gumamnya berpikir positif. “Alinka,” panggil suara dari arah pintu kafe. Alinka menoleh dan mendapati Olivia tengah keluar dari dalam kafe. Oliva adalah teman kerja Alinka di kafe. Melihat Olivia, Alinka sontak tersenyum kecil. “Lo masih di

