Makan siang itu terasa berbeda. Aku duduk di tempat favorit kami, sebuah restoran kecil dengan suasana tenang di pinggir kota. Satria duduk di depanku. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya, meskipun lelaki itu berusaha tersenyum seperti biasa. "Embun," katanya pelan, membuka percakapan setelah beberapa saat kami hanya menikmati hidangan tanpa banyak bicara. "Kamu tahu nggak, aku selalu merasa nyaman kalau sedang sama kamu." Aku tersenyum kecil, menyeka sudut bibir dengan serbet. "Ya, aku juga merasa begitu. Tapi, kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Biasanya kamu santai aja." Satria tertawa ringan, tapi ada sedikit gugup dalam nada suaranya. "Karena hari ini nggak biasa. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Aku menatapnya, mencoba menebak apa yang ada di pikiran lelaki itu. Namun

