Aku duduk di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana yang telah disiapkan oleh keluarga Satria untuk acara pertunangan kami. Tanganku gemetar saat merapikan jilbabku. Aku tidak pernah membayangkan akan kembali ke titik ini-bersiap untuk acara besar dalam hidupku. Kali ini dengan seseorang yang benar-benar peduli padaku. "Embun, kamu sudah siap?" Suara lembut Satria terdengar dari balik pintu. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Sebentar lagi, Satria." Pintu kamar terbuka sedikit, dan kepala Satria menyembul dengan senyum kecil di wajahnya. "Jangan terlalu gugup. Ini hanya keluarga dan teman-teman dekat. Semuanya akan berjalan lancar." Aku tersenyum kecil, tapi perasaan gugup tetap menghantui. "Aku nggak tahu, Satria. Rasanya seperti mimpi. Aku bahkan ng

