Bab 1 - Pergi ke Desa
Malam itu suasana di kediaman keluarga Wijaya begituw tenang. Angin berembus pelan, membuat permukaan kolam renang di halaman belakang beriak lembut. Di sebuah meja kecil yang menghadap kolam, Monic Felicia Wijaya duduk berhadapan dengan putra semata wayangnya, Hirotada Sora Wijaya. Masing-masing menikmati secangkir teh hangat.
Hubungan mereka bukan hanya seperti ibu dan anak, tetapi juga seperti sahabat. Mereka terbiasa bercanda tanpa batas.
Monic melirik Hiro dari balik cangkir tehnya.
"Kok kamu sampai sekarang belum punya pacar, sih?" tanyanya santai. "Jangan-jangan... kamu sukanya sama cowok? Awas aja, ya."
Hiro yang sedang menyeruput teh hampir tersedak.
"Apa sih, Ma? Aku normal!" protesnya sambil menggeleng.
Monic terkekeh melihat reaksi anaknya.
"Kalau normal, terus kenapa belum pernah bawa pacar ke rumah? Coba cerita sama Mama."
Hiro mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih ke pantulan cahaya lampu di kolam renang.
"Huff... Mama tahu sendiri. Di kota itu susah cari perempuan yang benar-benar baik."
Monic tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah putranya yang diterpa cahaya lampu taman. Sejak kecil Hiro memang jarang mengeluh. Bahkan saat ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, anak itu memilih mengubur kesedihannya sendiri demi terlihat kuat di depan sang ibu.
Karena itu, malam ini Monic memilih menjadi pendengar.
"Apa selama ini kamu benar-benar nggak pernah jatuh cinta?" tanyanya pelan.
Hiro tersenyum tipis.
"Jatuh hati pernah, Ma."
"Terus?"
"Selalu berakhir mengecewakan."
Monic mengangkat alis.
"Ceritain sama Mama."
Hiro mengembuskan napas panjang sebelum bersandar pada kursinya.
"Dulu waktu kuliah aku pernah menyukai seseorang. Dia terlihat sederhana, sopan, dan perhatian. Aku pikir dia berbeda."
"Lalu?"
"Suatu hari aku ingin memberinya kejutan. Tapi yang kulihat justru dia sedang makan malam bersama laki-laki lain. Beberapa hari kemudian aku tahu ternyata mereka memang sudah lama berpacaran."
Monic menghela napas pelan.
"Pasti sakit."
Hiro tersenyum hambar.
"Itu belum seberapa."
"Ada lagi?"
Hiro mengangguk.
"Setelah mulai bekerja di perusahaan, banyak perempuan mendekat. Tapi hampir semuanya punya tujuan."
"Maksudnya?"
"Ada yang ingin memanfaatkan koneksi bisnis, ada yang ingin terkenal karena dekat dengan keluarga Wijaya. Bahkan ada yang terang-terangan meminta dibelikan apartemen setelah baru dua minggu berkenalan."
Monic menggeleng tak habis pikir.
"Pantes saja kamu jadi susah percaya sama perempuan."
"Bukan susah percaya, Ma."
"Lalu?"
"Aku cuma ingin seseorang yang mencintaiku sebagai Hiro... bukan sebagai pewaris Wijaya Group."
Kalimat itu membuat Monic terdiam cukup lama.
Ia baru menyadari bahwa selama ini status keluarganya justru menjadi beban bagi putra semata wayangnya.
Monic langsung memasang wajah serius. Ia menggenggam tangan putranya, memberi isyarat agar Hiro melanjutkan ceritanya.
"Aku pernah mencoba mendekati beberapa perempuan yang kelihatannya baik. Tapi ujung-ujungnya aku malah melihat mereka jalan dengan laki-laki lain. Ada juga yang hampir setiap malam pergi ke bar. Aku jadi ragu untuk membuka hati lagi."
Monic mengusap pelan punggung tangan Hiro.
"Jadi itu alasan kamu selalu menolak perempuan yang mendekat?"
Hiro mengangguk.
"Iya, Ma. Memang banyak perempuan yang mendekatiku. Tapi aku nggak mau perempuan yang gampang memberi harapan ke banyak laki-laki. Aku cuma ingin seseorang yang benar-benar tulus dan memilihku. Sampai sekarang... aku belum menemukannya."
Monic tersenyum tipis. Kini ia mengerti isi hati putranya selama ini.
"Kalau Mama yang mencarikan jodoh buat kamu, gimana?"
Hiro langsung menatap ibunya.
"Ma... ini bukan zamannya Siti Nurbaya."
Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan.
"Lagipula kalau ternyata kami nggak cocok, nanti Mama yang nggak enak sama orang yang sudah dikenalkan. Aku nggak mau bikin Mama kecewa."
Mendengar jawaban itu, hati Monic menghangat. Anak yang dikenal dingin di luar ternyata selalu memikirkan perasaannya.
"Mama cuma sudah mulai tua, Hiro. Mama ingin melihat kamu menikah. Mama ingin punya menantu... dan suatu hari nanti menggendong cucu."
Hiro menatap wajah ibunya yang mulai memperlihatkan garis-garis usia.
Selama beberapa detik ia hanya diam.
Ia teringat bagaimana Monic bekerja tanpa mengenal lelah sejak ayahnya meninggal. Hampir setiap hari sang ibu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika malam sudah larut.
Padahal seharusnya, di usia sekarang Monic bisa menikmati hidup dengan tenang.
"Ma..."
"Iya?"
"Aku minta maaf."
Monic tersenyum heran.
"Minta maaf kenapa?"
"Karena selama ini Mama harus bekerja sendirian."
Monic tertawa kecil.
"Kamu ini."
"Serius, Ma."
"Aku tahu Mama kuat. Tapi aku juga tahu Mama capek."
Monic mengusap pipi putranya dengan lembut.
"Selama kamu baik-baik saja, capek Mama hilang."
Hiro tersenyum tipis.
"Makanya aku sekarang ikut mengurus perusahaan."
"Mama bangga sama kamu."
Suasana kembali hening.
Hanya suara gemericik air kolam yang menemani mereka.
Hiro tersenyum lembut.
"Kalau Mama capek mengurus bisnis, tinggal cari asisten saja. Biar ada yang membantu pekerjaan di rumah."
Monic terdiam sejenak. Jarinya mengetuk pelan dagunya.
"Benar juga..."
Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, seluruh bisnis keluarga berada di bawah tangannya. Kini Hiro sudah mulai mengambil alih perusahaan utama, sementara Monic lebih fokus mengurus butik dan usaha kue milik keluarga.
Namun, urusan rumah tetap membuatnya kewalahan.
"Apalagi Bi Inah dua hari lagi pulang kampung. Katanya sudah ingin menikmati masa tua di desa. Mama benar-benar harus mencari penggantinya."
"Nah, itu. Rekrut saja orang baru."
Monic memandang langit malam yang dipenuhi bintang.
Tiba-tiba ia teringat kampung halamannya.
Sudah cukup lama ia tidak pulang.
Ia merindukan udara desa yang sejuk, sawah yang membentang hijau, dan rumah peninggalan orang tuanya.
Entah mengapa, setiap kali berada di desa, hatinya selalu terasa lebih damai.
Mungkin...
Di sana pula jawaban atas doa-doanya selama ini sedang menunggu.
Tanpa sadar senyum tipis terukir di wajahnya.
Hiro yang melihat perubahan ekspresi ibunya bertanya,
"Kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Nggak apa-apa."
"Kayaknya Mama lagi punya ide."
"Memang."
"Ide apa?"
"Nanti juga kamu tahu."
Monic tiba-tiba berdiri. Ia berjalan perlahan di tepi kolam sambil membawa cangkir tehnya. Senyum kecil mulai terukir di wajahnya, seolah sebuah ide baru saja muncul.
"Kalau begitu... besok kita ke Purwokerto."
Hiro mengernyit.
"Besok? Kenapa mendadak banget, Ma?"
"Mumpung besok Sabtu kamu libur. Kita menginap di rumah Eyang, sekalian mencari asisten baru di desa. Siapa tahu ada gadis yang rajin dan bisa membantu Mama."
Hiro hanya tertawa pelan.
"Baiklah. Lagipula aku juga sudah lama nggak bertemu Eyang."
Monic tersenyum puas.
Namun, ada satu hal yang tidak Hiro ketahui.
Perjalanan ke Purwokerto bukan hanya untuk mencari asisten rumah tangga.
Monic sudah menyusun rencana lain.
Ia berharap, dari desa itu, ia bisa membawa pulang seorang calon menantu untuk putra semata wayangnya.
Setelah Hiro masuk ke dalam rumah, Monic masih berdiri sendirian di tepi kolam.
Ia mengambil ponselnya lalu membuka sebuah foto lama.
Foto seorang gadis kecil dengan senyum polos yang diambil bertahun-tahun lalu saat ia pulang ke desa.
Monic tersenyum.
"Gadis itu sekarang pasti sudah dewasa."
Entah mengapa, hatinya berkata bahwa perjalanan besok bukanlah sebuah kebetulan.
Ada takdir yang sedang mempertemukan dua orang yang bahkan belum saling mengenal.
Monic mematikan layar ponselnya sambil menatap langit malam.
"Semoga kali ini Mama tidak salah memilih."
Tanpa ia sadari, di sebuah desa yang berjarak ratusan kilometer dari kota, seorang gadis bernama Melati juga sedang berdoa agar esok menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Takdir mereka akan segera berpapasan.
Bersambung…