“Mas, kayaknya Mas Nendra berlebihan deh,” protes Amara saat Nendra melarangnya untuk turun dari ranjang. “Diem dulu. Tunggu Evan datang kalau kamu mau selamat.” “Mas Nendra telepon Mas Evan?” “Dia dalam perjalanan.” Amara menjejakkan kakinya di lantai dengan jengkel. “Kamu mau membahayakan janinmu juga?” “Apa?” Amara mundur hingga terduduk kembali di ranjang. “Kapan terakhir kamu haid?” “Aku,” ia mencoba mengingat-ingat kalender menstruasinya. “Kamu sering ngerasa gak enak badan akhir-akhir ini?” Amara mengangguk. “Mood swing?” Dia kembali mengangguk. “Apa menurut Mas Nendra aku hamil?” “Denyut nadimu berbeda. Nanti biar diperiksa lebih lanjut sama obgyn. Nunggu Evan dateng, biar dia lihat sendiri. Aku penasaran wajah kulkas itu kayak apa dapet berita ini.” “Mas, jangan bec