Binta gemetar, sebisa mungkin ia menahan air matanya tapi nyatanya tetap terjatuh. "Aku harus pergi, aku tidak bisa terus terpenjara di sini." Matanya menatap sekeliling, tempat gelap itu sama seperti gelapnya perasaannya. Binta mengusap air matanya, gadis itu membutuhkan tempat yang benar-benar asing, tempat di mana tidak ada yang peduli tentang rasa kopi atau seseorang di masa lalu. 'Aku yang menyuruhnya pergi!' Ingatan itu terputar kembali, semakin membekukan amarah dalam dadanya, pengakuan yang lolos dari bibirnya di hadapan Gala terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Gala telah memaksa Binta mengakui luka terdalam, dan Binta membenci pria itu karena memiliki kekuatan tersebut. "Kenapa harus Gala? Fotografer sialan itu?" Binta mengemudikan mobilnya menuju jantung

