Malam itu, suasana di ruang perjamuan salah satu hotel mewah di pusat kota dipenuhi tawa dan gemerlap cahaya lampu kristal. Para tamu yang hadir berpakaian elegan, memegang gelas sampanye di tangan, merayakan kemenangan besar yang baru saja diraih oleh Tristan dan perusahaannya. Termasuk juga Roy juga ada di sana. Tender yang selama ini menjadi perebutan banyak perusahaan ternama akhirnya jatuh ke tangannya. Kesepakatan bernilai miliaran rupiah itu tidak hanya memperkokoh posisinya di perusahaan, tetapi juga meningkatkan reputasi perusahaannya ke tingkat yang lebih tinggi. Semua orang ingin memberi selamat, semua ingin mendekatinya, seolah kemenangan itu telah menjadi milik mereka juga. Tristan berdiri di tengah kerumunan, senyum tipis terukir di wajahnya saat ia menerima ucapan selamat

