Tristan menggeleng, rasa frustasi membuncah dalam dirinya. "Cukup, aku tidak mau mendengar ini lagi." Dengan gerakan tegas, ia meraih jasnya yang tersampir di kursi. "Kau tidak bisa pergi begitu saja! Kita belum selesai bicara," Roy menaikkan suaranya, wajahnya memerah. "Bagiku sudah selesai," potong Tristan dingin. "Selama bertahun-tahun aku berusaha memenuhi semua ekspektasi Papa. Datang tepat waktu, mengambil alih proyek yang tidak diminati orang lain, bekerja hingga larut malam. Tapi apakah Papa pernah menghargainya? Tidak." Ia mengambil langkah menuju pintu, kemudian berbalik. "Dan sekarang, ketika aku memiliki tanggung jawab lain—tanggung jawab sebagai ayah—Papa tetap menuntut loyalitas penuhku pada perusahaan." "Perusahaan ini adalah warisan keluargamu!" Roy menggebrak meja den

