Elea menangis kencang, suaranya memenuhi ruangan yang semula sunyi. Tangisan itu terdengar nyaring, seakan mencerminkan ketidaknyamanannya. Tristan tersentak, refleks berdiri dari kursinya dan menatap putrinya dengan panik. Elmira, yang sejak tadi menahan diri, langsung mendekat dengan sigap. Tanpa ragu, dia mengulurkan tangan, bersiap untuk menggendong bayi mungil itu. Namun, tangan Tristan maju, seolah tak mengizinkannya untuk menyentuh sang bayi. "Dia butuh aku," ucapnya Elmira dengan sedikit memohon. "Dia butuh ASI." Tristan menoleh cepat, menatap Elmira dengan sorot mata yang masih dipenuhi emosi. Tapi melihat Elea dengan tangis yang semakin menjadi, pria itu tak punya pilihan lain. Dengan enggan, dia melangkah mundur, membiarkan Elmira mengambil alih. Elmira mengangkat Elea ke da

