Kami mengatur nafas masing-masing. Kening kami beradu. Aku lihat jakun Pak Heri naik turun. "Apa..., ini salah teknis lagi?" tanyaku hati-hati. Pak Heri menatapku. Ia masih diam. Kedua telapak tangan lebarnya menangkup wajahku. "Kamu membuat saya terus khilaf dan berfikir bahwa kamu sudah dewasa," ucapnya dengan suara berat. Tolong seseorang selamatkan jantungku! Apa dia akan bilang lagi kalau aku anak kecil? "Dan kenyataannya saya masih kecil. Begitu, Pak?" tanyaku dengan nada kesal. Kita lihat setelah dia menikmati bibirku lebih lama, apa dia akan bilang seperti itu lagi? Tangan Pak Heri turun dari wajahku. Ia memejamkan mata. Menghembuskan nafas beberapa kali, lalu membuka matanya lagi dan menatapku. Tatapan itu lagi! "Saya...," ucapan Pak Heri berhenti. Seseorang membuka pintu k

