Kami masih duduk diam. Belum ada yang memulai bicara setelah Pak Heri pergi. Ditambah lagi, ulah Kak Bima yang main peluk tanpa permisi. Aku tahu kok, dari tadi Kak Bima mencuri pandang padaku. Tapi aku masih diam. Bingung mau ngomong apa. "Ekhm, Put!" Kak Bima akhirnya bersuara. "Ya?" jawabku singkat. Menatapnya sekilas lalu menunduk lagi, memilih menatap jemariku yang belum sempat potong kuku. "Kamu sadar gak?" tanyanya. "Sadar lah Kak, kan aku gak pingsan?" jawabku seadanya. Lha emang iya kan? Orang lagi sadar begini ditanya sadar apa enggak. Padahal aku gak nunjukkin gejala ngantuk. Seger buger begini. Dikira pingsan apa? "Haha, tuh kan kamu emang lucu!" jawabnya sambil menjawil pipi kananku dengan gemas. "Aw, ish, sakit, Kak!" Bibirku mengerucut sebal. Asli sakit lho, ini! Buk

