Reuni

1414 Kata

Akhirnya aku kembali lagi ke sekolah. Tentu saja setelah mendapat ceramah gratis dari Pak Heri. Alas kali tinggi dan panjang kali lebar. Yah lengkap dengan peringatan kebiasaan burukku yang suka tidur di kelas. Semua dibahas hingga telingaku terasa panas. "Jangan cemberut dong, Put! Jelek tahu!" Pak Heri menjawil daguku yang masih dalam mode kesal padanya. Ah, dia berani seperti ini karena kami sedang berada di ruangannya dengan pintu tertutup. Di luar, mana berani! Bisa-bisa kami ditendang dari sekolah ini akibat terlibat skandal guru dan murid. Ngeri kan? "Masih marah ya? Ini kan untuk kebaikan kamu juga, Put!" Pak Heri membawa dua cangkir teh hangat. Ia menyodorkannya padaku. "Ya, saya tahu kok." "Nah, itu tahu. Kenapa masih marah?" "Pak Heri mau tahu kenapa?" Pak Heri mengangguk.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN